• Mei 20, 2024

Presiden Ebrahim Raisi Dikonfirmasi Tewas dalam Kecelakaan Helikopter, Media Iran: Ia Menjadi Martir

Ebrahim Raisi, presiden kedelapan Iran, menjadi martir setelah sebuah helikopter yang membawanya dan rombongannya jatuh di wilayah Varzaqan, Provinsi Azarbaijan Timur pada hari Minggu (19/5/2024). Demikian pernyataan kantor berita Iran, IRNA, Senin (20/5).

Helikopter Raisi, bersama dua helikopter lainnya, sedang slot777 dalam perjalanan ke Kota Tabriz pada hari Minggu setelah ia meresmikan Bendungan Qiz Qalasi di perbatasan dengan Republik Azerbaijan pada hari yang sama.

Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amir-Abdollahian; Gubernur Provinsi Azarbaijan Timur Malek Rahmati; kepala tim pengawal Raisi, Mehdi Mousavi; dan perwakilan pemimpin tertinggi di Provinsi Azarbaijan Timur Mohammad Ali Al-e-Hashem dilaporkan berada dalam helikopter yang sama.

Pejabat lokal yang hadir di lokasi kecelakaan ikut serta mengonfirmasi kematian Raisi dan tim pendampingnya.

Pemerintah Iran akan lantas mengeluarkan pernyataan legal.

Calon Kuat Penerus Khamenei

Presiden Raisi yang berusia 63 tahun telah lama dianggap sebagai penerus Pemimpin Tertinggi Ayatullah Ali Khamenei, otoritas tertinggi di Iran. Demikian seperti dikutip dari Al Jazeera.

Sosoknya yang dilabeli politikus garis keras dan konservatif secara agama, pertama kali mencalonkan diri sebagai presiden pada tahun 2017, tetapi gagal. Ia walhasil terpilih pada tahun 2021.

Presiden Raisi mulai belajar di sekolah keagamaan Qom yang terkenal pada usia 15 tahun dan melanjutkan belajar di bawah pengarahan sebagian cendekiawan muslim pada ketika itu.

Pada tahun 1983, ia menikah dengan Jamileh Alamolhoda, putri Imam Masyhad Ahmad Alamolhoda. Mereka kemudian mempunyai dua buah hati perempuan.

Selama lima bulan pada tahun 1988, ia menjadi komponen dari sebuah komite yang mengawasi serangkaian eksekusi tahanan politik, sebuah masa lalu yang membuatnya tidak populer di kalangan oposisi Iran dan menyebabkan Amerika Serikat menjatuhkan hukuman terhadapnya. Pada tahun 1989, Raisi diangkat menjadi jaksa di Teheran setelah kematian Pemimpin Tertinggi pertama Iran Ayatullah Ruhollah Khomeini.

Raisi terus naik pangkat di bawah pengganti Khomeini, Ayatullah Khamenei, dan menjadi ketua Astan Quds Razavi, lembaga keagamaan terbesar di Masyhad, pada 7 Maret 2016, yang mengukuhkan statusnya dalam pemerintahan Iran.

Seorang kritikus kepada kesepakatan tahun 2015 – yang diketahui sebagai Agenda Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) – Raisi berasal dari blok yang lebih garis keras diperbandingkan Hassan Rouhani (presiden Iran 2013-2021), yang diamati sebagai seorang moderat dalam metode politik Iran.

Pada ketika itu, JCPOA berada dalam kondisi kacau setelah Amerika Serikat (AS) – di bawah kepemimpinan eks Presiden Donald Trump – secara sepihak menarik diri dan menggunakan kembali hukuman kepada Iran, sehingga berakibat buruk kepada perekonomian Iran.

Pandemi COVID-19 memperburuk kondisi Iran, dengan angka kematian melebihi 97.000 pada Agustus 2021.

Kredensial Raisi di lembaga keagamaan dilaporkan amat kuat, di mana ia menjalin relasi yang solid dengan mendiang Khomeini serta dengan Khamenei, yang telah menunjuknya ke sebagian posisi senior.

Raisi disebut sukses pula menjaga relasi bagus dengan segala cabang pemerintahan, militer, dan legislatif serta kelas penguasa teokratis yang kuat.